Sunday, December 8, 2013

Derry Oktriana 1st Book, 15 December 2013

Bismillah, tulisan kali ini dikhususkan untuk membahas sekelumit tentang buku perdana yang penulis susun dengan judul ‘Selamat Tinggal Tuhanku, Aku Perempuan Merdeka’. Buku ini diterbitkan melalui penerbit Indie Publishing dengan ukuran 14x21cm dan tebal sekitar 386 halaman. Adapun tema yang diangkat dari buku ini adalah mengenai perjuangan seorang perempuan yang berusaha berhijrah dari masa jahiliyah menuju masa yang penuh dengan nilai-nilai Islam. Selama perjalanannya, dibahas pula mengenai banyak hal tentang para pemuda dengan peradabannya, para perempuan dengan kehormatannya, para orangtua dengan sikapnya, para aktivis dakwah dengan perjuangannya hingga tentang perasaan penulis saat merayakan kematian Ayahnya dan luluh lantaknya ekspektasi penulis saat satu sosok laki-laki yang ia kagumi selama ini mendadak memproklamirkan dirinya sebagai seorang ateis. Dan dari keseluruhan rentetan perjalanan itu akan mengantarkan para pembaca tentang definisi baru dari ‘pemuda’, ‘ekspektasi’, ‘kehormatan’ hingga ‘kematian’. Besar harapan penulis agar para pembaca dapat menyelami lautan hikmah yang diangkat dari kisah-kisah nyata di dalamnya. Berikut penulis lampirkan beberapa kalimat yang terdapat di dalam buku ini:

Monday, December 2, 2013

Coitus Interuptus dengan Pekan Kondom Nasional



 
Well, sesungguhnya menulis tulisan kali ini agak memuakkan, disamping karena temanya yang juga memuakkan, juga tentang deadline memuakkan yang dibuat oleh Ari Akbar. Entahlah harus memulai darimana, rasanya hanya ingin menulis sebuah paragraph kemudian mengakhirnya dengan ucapan terima kasih. Namun baiklah, mari kita lihat apa yang akan tertulis setelah ini. Mungkin dapat kita mulai dengan kata ‘kondom’. Kondom merupakan salah satu alat pengaman yang digunakan untuk mencegah terjadinya konsepsi. Lalu apa itu konsepsi? Konsepsi merupakan proses awal terjadinya kehamilan dimana berlangsungnya pertemuan antara sel sperma dan ovum, kemudian aku tergelitik untuk menanyakan istilah itu pada teman-teman satu grup skripsiku:
Aku        : Kemarin apa istilahnya? Yang cruptus2 itu
Ade        : Apaan cruptus?
Aku        : Itu loh yang pembuahan di dalam
Adit        : Coitus Interuptus
Oni         : Yiiii, masya Allah, kenapa tiba2 nanya gitu2an?
Aku        : Yii lagi mau nulis tentang kondom weeks
Ade      : (menanggapi Adit) Salah, bukan itu, seharusnya coitus aja, interuptus itu dibatalkan alias buang diluar
Yah, kira-kira begitulah obrolan anak Farmasi. Sekarang kembali ke tema awal tentang kondom weeks, entah apa yang ada di pikiran para petinggi negeri ini dan para pembuat kebijakan di atas sana. Mereka menetapkan 1-7 Desember sebagai Pekan Kondom Nasional, rasanya aku benar-benar ingin meneriakkan, “What the…?!” kepada mereka semua.

Monday, November 18, 2013

Aku Bahagia Karena Dia Ayahku




Aku bahagia karena aku adalah anak perempuannya
Aku bahagia karena dia pernah mengatakan, “Kamu itu anak kebanggaan papa. Papa sayang kamu, jaga diri baik-baik ya.”
Aku bahagia karena aku adalah seorang putri yang telah mewujudkan sebagian mimpi-mimpinya
Aku bahagia karena aku pernah menghabiskan waktu berdua bersamanya
Aku bahagia karena aku tak beranjak sedetikpun dari sisinya saat dia sedang kesakitan
Aku bahagia karena aku menghabiskan pagi dan petang membaca Quran bersamanya
Aku bahagia karena aku selalu shalat berdua bersamanya
Aku bahagia karena aku menceritakan banyak kisah Rasul dan para sahabat padanya
Aku bahagia karena aku mampu mendekap erat tubuhnya yang mulai dingin dan membeku itu
Aku bahagia karena ada diriku yang terukir jelas di kedua bola matanya
Aku bahagia karena tiap ruas jemariku sama dengan miliknya
Aku bahagia karena dia adalah orang yang terakhir kali mengecup mulutku ini
Aku bahagia karena aku senantiasa mengatakan padanya, “Papa itu papa terbaik, Derry sayang Papa, sangat.”
Aku bahagia karena aku masih merasakan getaran lembut nadinya di saat-saat terakhir
Aku bahagia karena aku menyenandungkan lafadz “Laa illa ha ilallah” di telinganya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya

Monday, November 11, 2013

Pahami dan Selamat Menikmati



Sebagai seseorang yang masih belum mampu terlepas dari berbagai film yang beredar, beberapa minggu terakhir aku telah menyaksikan film The Insidious 2, Gravity, Captain Phillips, Thor dan ditutup dengan Now You See Me. Semuanya menarik, dengan esensi kelezatannya masing-masing. Mungkin banyak orang di luar sana yang menonton sebuah film lalu selesai sampai di situ saja, tidak lebih dari sarana hiburan. Namun, aku adalah perempuan yang mengambil hal lain di dalamnya. Kita mulai dari film The Insidious 2, ini adalah sebuah sekuel film dengan genre horor yang mengangkat tema tentang segala hal yang berkaitan dengan kemampuan seseorang menjelajahi dunia lain saat ia sedang tertidur, dan apabila ia berjalan terlalu jauh dari tubuh aslinya, maka akan ada kemungkinan tubuhnya tersebut akan ditempati oleh ruh lainnya. Banyak hal yang aku pikirkan saat itu, terutama tentang kematian. Semua orang akan mati, ruh akan berpisah dari jasad, yang dicinta akan berpisah dengan yang mencinta, dan seterusnya. Lalu pertanyaannya, tahukah kita kapan masa itu akan menghampiri kita? Bukankah kita ini hanyalah sekumpulan manusia yang menunggu giliran kematian kita?

Tuesday, November 5, 2013

Karena Kematian adalah Perayaan






Tak sedikit hal yang berubah setelah hari itu, Selasa 11 Juni 2013. Baik tentang pemikiran, sikap, hingga jiwa. Jika harus membahasnya satu per satu, mungkin aku akan memulainya dengan perubahan sikap dalam pengambilan keputusan tentang banyak hal, baik itu tentang studiku, waktu yang akan aku habiskan nantinya, pengabdian yang harus aku pertanggungjawabkan, dan masih banyak lagi. Pengambilan sikap ini juga memengaruhi kebiasaanku selama ini, salah satunya mengenai buku-buku yang biasa aku beli tanpa terlalu memikirkan jumlah apalagi harganya. Dulu, setiap aku mendatangi toko-toko buku, aku bahkan bisa membeli 4-5 buku sekaligus, yang akan aku lahap dalam waktu singkat. Namun kini, untuk membeli satu buku saja, aku harus mempertimbangkannya secara matang. Ini bukan tentang tak adanya buku yang layak aku baca, ini tentang biaya yang harus aku keluarkan saat membelinya. Belakangan ini aku lebih cenderung membaca e-book yang dapat diunduh secara gratis di internet. Namun tetap saja, buku-buku yang berkualitas hanya tersedia dalam bahasa Arab atau Inggris, sangat sulit untuk menemukan kitab-kitab klasik ulama tempo dulu yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dulu, sebelum 11 Juni 2013, apalagi saat aku masih anak-anak, buku itu seolah segalanya, mampu diperoleh dengan mudah, berapapun yang aku inginkan, berapapun harganya, Ayahku tak pernah bermasalah untuk memenuhi permintaan anak perempuannya ini. Saat aku sudah kuliahpun, aku tinggal mengatakan bahwa aku baru saja membeli banyak buku, dan dia tak pernah mempermasalahkannya. Tapi itu dulu, saat dia masih ada untuk anak perempuannya ini. Kini, setiap aku melirik buku-buku impian yang sangat aku ingin baca dan miliki, aku hanya mampu membisikkan dalam hati, “Ya Rabb, aku menginginkannya, jika Engkau berkenan, maka berikanlah padaku.” Dan doaku seolah selalu diijabah oleh-Nya,

Monday, October 28, 2013

Sumpah Pemuda, Menembus Batas, Menembus Mayoritas

    

21 Oktober 2013, satu naskah lengkap, 252 halaman A4 dengan 77.563 kata telah dikonfirmasi penerbit. Saatnya penantian dengan rasa cemas dan harap, Desember, insya Allah. Ada kelegaan berarti karena terselesaikannya tulisan-tulisan itu, namun lihatlah sekarang, aku mulai kehilangan satu rutinitas, apalagi kalau bukan menulis. Seolah ada segumpal jiwa yang tercabut dari diri, sepertinya aku memang harus kembali mengalihkan fokusku, karena satu tujuan telah hampir tercapai, kini saatnya kembali dengan halaman-halaman ini, latar hitam, dengan tulisan merah dan putih yang menyeruak di atasnya. Biarkan aku menuliskan sebuah tulisan sebagai pembatal dari puasa posting di blog ini selama berbulan-bulan, mungkin dengan tema sesuai penanggalan hari ini, 28 Oktober, hari Sumpah Pemuda. Here we go...

Saturday, May 18, 2013

Kiat Sukses Mencontek Halal ala Muslim Muslimah



Ujian Nasional, Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, Ujian Akhir Sekolah, Ujian praktikum dan segala hal yang berbau ujian dalam hal akademik masih tidak ada apa-apanya dibandingkan ujian hidup yang akan dihadapi peserta didik kelak. Namun, pendidikan di Indonesia saat ini benar-benar sudah sangat memprihatinkan. Dari bangku pendidikan sekolah dasar saja seolah sudah dididik bahwa saat ujian boleh mencontek, terutama yang berkaitan dengan kelulusan siswanya. Bahkan tercatat banyak sekolah yang sengaja mengadakan tim sukses khusus untuk meluluskan para siswanya. Ada yang beralasan demi masa depan siswa, demi akreditasi sekolah, dan banyak lagi.
Penulis benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran para pendidik, apakah ini bentuk pendidikan mencontek usia dini? Nasib bangsa ini tidak terlepas dari peran serta generasi muda, jika dari awal saja sudah membudayakan tradisi mencontek, wajarlah jika korupsi menjadi ajang tradisi turun-temurun pula, ironis.
Tak dapat dielakkan banyak asumsi yang mengatakan, “Tak apalah, ini semua kan demi harumnya nama sekolah, demi kebaikan para siswa dan wali murid, dan bla bla bla.” Oke, tujuannya mulia, sangat-sangat mulia, tapi caranya? Salah besar! Jika hal-hal sepele selalu kita abaikan dari usia dini, disadari atau tidak, tentu akan membentuk mental peserta didik yang menghalalkan segala cara demi kebaikan dirinya atau kebaikan golongan tertentu. Dampak nyata telah menghiasi media-media di Indonesia, ada yang korupsi dengan ‘tujuan mulia’, misalnya membahagiakan keluarga, memenangkan proyek, kepentingan partai dan golongan atau jangan-jangan ada yang korupsi buat naik haji.
Sesungguhnya, mencontek itu halal, jika dilakukan dengan cara-cara yang benar dan tidak menimbulkan dosa apapun. Dibawah ini beberapa kiat sukses mencontek yang dihalalkan oleh agama :

Thursday, May 16, 2013

Cinta itu Candu dan Kitalah Para Pecandu itu



Malam itu, setelah mempublikasi tulisan ‘Hadiah Terbaik dari Saudi Arabia’, aku meluangkan waktu untuk berkomunikasi melalui facebook, aku menyapa seorang temanku di SMA dahulu, sebut saja namanya X. Awalnya hanya ingin menanyakan project kami saat liburan nanti setibanya di Tanjungpinang, namun mendadak fikiranku merambat ke satu pertanyaan liar yang sangat aku butuhkan jawabannya. Aku memulai dengan kalimat, “Boleh nanya gak? Eh gak jadi deh, oke end.” Haha, dan dia serta merta mengatakan, “Nah ini nih, paling anti kalo gak jadi nanya.”
Baiklah, akhirnya aku meneruskan pertanyaanku, “Jadi gini, semua orang punya kisah tentang hidayah, kalo ceritanya X gimana?”. Jengjeng, begitu pertanyaannya. Dan dari seluruh obrolan kami, satu kalimat yang sangat aku ingat dan melahirkan ide baru untuk seluruh tulisan ini nantinya. Ia mengatakan, “Vacuum of Sense”. Satu kalimat sederhana tapi sangat bermakna menurutku, karena ini semua menyangkut suatu rangkaian kegiatan setelah dan sebelum ‘sesuatu’ dan tentunya memiliki hubungan sebab-akibat. Great, sekian intermezo, mari kita memasuki pembahasan inti dari tulisan ini.

Wednesday, May 15, 2013

Hadiah Terbaik dari Saudi Arabia



“Demi waktu dhuha dan demi malam apabila telah sunyi”, penggalan ayat ini selalu membuatku tersenyum haru penuh syukur. Bagaimana tidak? Mungkin ini adalah hadiah terbaik yang pernah diberikan oleh seorang makhluk padaku. Aku ingat benar di malam itu, Jumat 29 Maret 2013, di salah satu ruang VIP Gelora Bung Karno, setelah menunaikan shalat maghrib dan isya berjamaah, kami semua berkumpul untuk mendengarkan arahan mengenai acara puncak esok hari. Ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Wisuda Akbar ke 4 yang diselenggarakan oleh PPPA Daarul Qur’an. Segala puji hanya bagi Allah yang menempatkanku diantara mereka semua, aku menjadi salah seorang relawan dalam acara luar biasa ini.
Semua ini berawal dari tweet Ustadz Yusuf Mansur yang akan menyelenggarakan wisuda akbar para hafidz dan hafidzah seluruh Indonesia khususnya surah Al-Baqarah ayat 1-50 dan surah An-Naba. Acara ini membutuhkan sejumlah relawan, awalnya aku hanya membaca sekilas tweet tersebut, dan terbersit dalam hatiku, “Andaikan aku bisa menjadi salah satu diantara para relawan itu, betapa beruntungnya aku.” Beberapa hari berselang, aku mengetahui bahwa salah seorang temanku telah diterima menjadi tim relawan di bagian kesehatan. Aku bergegas menghubungi panitia dan mendaftarkan diri sebagai seorang relawan juga. Namun sayang, panitia tersebut mengatakan bahwa tak ada tempat lagi untuk seorang akhwat, mereka hanya menyisakan beberapa tempat lagi untuk ikhwan. Baiklah, dengan ikhlas aku merelakan kesempatan luar biasa itu. Aku katakan padaNya, “Ya Rabb, andaikan itu memang rezekiku untuk menjadi bagian dari acara tersebut, maka bukakanlah jalannya sesuai kehendakMu, namun jika memang bukan rezekiku semoga Engkau menggantikannya dengan yang lebih baik.”

Tuesday, May 14, 2013

Untuk Perempuan Bodoh yang Tak Kunjung Memaafkanku



Beberapa hari ini aku seolah mengalami kematian lagi dan lagi. Hasrat untuk menulis sangat besar, seluruh kalimat berputar dan tak sabar ingin dituangkan. Namun ketika jemari memulai satu atau dua kata pembukaan, mendadak kalimat-kalimat itu gugur tak berbekas. Tak ada cara lain selain membaca, aku butuh kalimat baru, kalimat yang jauh dari nada berkeluh kesah. Aku butuh kalimat-kalimat yang memberi kehidupan. Aku mulai muak dengan kesatuan kalimat mengenai kematian. Aku benar-benar ingin hidup. Hidup layaknya manusia!
Aku katakan padaNya, “Ya Rabb, ada satu perempuan, aku telah meminta maaf dengan tersungkur menangis dihadapannya berulang kali, namun ia tak kunjung memaafkanku, tolong lembutkan hatinya, katakan padanya, maafkan aku, aku benar-benar membutuhkan penerimaan maaf darinya.” Namun lihatlah, ia masih di sudut sana, menangis membeku tanpa suara. Ia mengadu padaMu untuk menguatkan dirinya, aku kerap kali mendengar rintihin suaranya di penghujung malam, dengan doa yang sama dan permohonan yang sama, dan lihatlah kini, aku tak pernah lagi menemukan binar matanya disaat semua orang tertawa, ia masih saja berkutat dengan kepedihan dirinya bersama jiwanya, sedangkan jasadnya ia biarkan bercengkrama dengan dunianya.

Thursday, May 9, 2013

Menjadi Perempuan Yahudi, Nasrani atau Pemuja Iblis?



Hari ini aku membaca beberapa tulisan yang pernah aku tulis, berusaha menjadi pembaca yang benar-benar independen dan seolah tak mengenal siapa perempuan dibalik seluruh tulisan ini. Kadang aku tersenyum, kadang menarik nafas panjang atau terlontar pertanyaan, “Benarkah perempuan yang ada dalam diriku ini pernah menulis ini semua?”. Secara keseluruhan, kumpulan tulisan ini menapaki suatu fase demi fase yang semakin menanjak meski kadang ianya jatuh kembali diiringi runtuhnya pertahanan. Namun, tetap saja, penulis tak membiarkan dirinya berkubang terlalu lama dalam lubang hitam itu, ia menyeruak kembali berdiri tegak menjemput cahaya. Jika para pembaca menelesuri jejak-jejak tulisan yang terhampar dimulai dari awal langkahnya, maka akan ditemukan suatu benang merah meski masih berbalut perumpamaan disana-sini.
Perempuan ini bermimpi mewujudkan garis hidupnya dari masa-masa kelemahan yang bertambah-tambah, kemudian berhijrah yang diwarnai masa transisi untuk bangkit kembali. Dan kini lihatlah, ia sedang membangun pertahanannya, lebih kokoh lagi, hingga satu hari dengan kerelaan hati dan keberanian ia akan membuka gerbang pertahanannya dan mempersilahkan seorang penyelamat untuk membentengi dirinya.
Kini aku selalu meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan perempuan ini, menanyakan kabarnya, menyusun rapi seluruh mimpi-mimpinya dan pastinya membantu dirinya mewujudkan seluruh mimpinya itu. Aku benar-benar mendampinginya dengan setia. Tak akan aku biarkan ia berjalan sendiri hingga tersesat di kegelapan malam lagi.

Friday, May 3, 2013

Tenanglah, Aku sudah Membunuh Perempuan itu


Mendekati 100 hari pasca kematianku terhitung tanggal 13 Februari 2013 lalu. Benar-benar menjadi bahan muhasabah diri lagi dan lagi. Kadang aku berteriak kepada diriku sendiri, “Andaikan memori rasa dan pikiran itu berwujud manusia, maka mungkin aku perempuan pertama yang akan membunuhnya!” Saat semua memori itu terputar dalam benakku, mungkin aku butuh berhenti sejenak, beristighfar sebanyak-banyaknya, merapikan kembali jubah pertahananku, tapi aku takkan sekali-kali mundur, selangkahpun tidak, aku akan tetap melangkah maju, hingga diizinkan naik ke langit.
Jika ada yang berfikir semua ini mudah sedangkan aku hanya berlebihan, kemarilah dekat denganku, kalian akan rasakan getaran pilu ini. Namun tenang saja, aku memilih untuk bungkam hingga tiba waktunya, mari kita nikmati hidup kita masing-masing, meski pisau belum berhenti bergerak.
Kadang aku seolah tak memiliki rasa kepedulian lagi terhadap diri, memikirkan Allah saja rasanya hatiku masih belum cukup luas untuk menampungnya. Lalu aku melihat ke arah mereka, sangat memprihatinkan melihat orang-orang yang menganggap bahwa Allah adalah subjek pelarian layaknya seluruh dalih logika liberalis mereka. Allah itu bukan tempat pelarian, Dia itu tujuan, satu-satunya tempat berlari dan kembali. Dan semakin memprihatinkan saat melihat mereka yang memandang kemunkaran sebagai sesuatu yang indah dan wajar, sedangkan ketaatan sebagai sesuatu yang asing.
Pertanyaannya adalah, “Aku yang harus memeriksakan diriku atau mereka?”

Selamat Tinggal Tuhanku, Aku Perempuan Merdeka


Aku ingat di hari itu, hari yang pernah sangat aku syukuri. Dan sekarang mendadak menjadi hari paling menggelikan sekaligus mengenaskan bagiku. Dulu aku seolah menyerahkan seluruh hatiku pada dia yang tiap saat dapat aku dengar, lihat atau sentuh. Namun tiba-tiba aku memilih menghilangkan semua rasa itu dan lihatlah sekarang, aku seolah sedang dimabuk cinta pada Dia yang tak pernah sama sekali aku dengar, lihat atau sentuh. Benar-benar lelucon yang aku syukuri dengan segenap jiwa dan raga.
Bahkan aku ingat saat semua itu berawal. Terkesan manis dan menyenangkan pada permulaan, namun semakin hari semakin terkikis dengan kefanatikan kami. Aku mulai kehilangan banyak hal, segala kegiatan organisasi aku tinggalkan, teman-temanku, sahabat-sahabatku bahkan diriku sendiri. Aku seolah tak mengenal Derry Oktriana lagi. Satu-satunya hal yang membuat aku bertahan adalah rasa itu, rasa yang selalu jadi kiblat seluruh jalinan ini.
Kadang aku sempat bertanya, mana Derry Oktriana yang selalu ingin berada di barisan depan untuk menyuarakan pendapatnya? Mana Derry Oktriana yang selalu memberontak saat dijajah? Mana Derry Oktriana yang pernah mencintai organisasi, sahabat, dan keluarganya lebih dari dirinya sendiri? Mana Derry Oktriana yang kerap kali membaca buku setebal dosa yang hanya dipenuhi dengan tulisan-tulisan? Mana Derry Oktriana yang selalu menyediakan waktunya untuk menulis pantun, puisi, artikel dan tulisan-tulisan lainnya? Kemana perempuan yang bernama Derry Oktriana ini? Ia kemana? Sepertinya ia tertawan sebagai budak tuhannya, tuhan barunya.

Barakallah, Aku Memaafkanmu


Pernah ada hari dimana langit begitu gelap. Aku benar-benar tak tahu matahari ada dimana. Begitu pula dengan bulan dan bintang-bintang, ntah berada dimana mereka semua. Rasanya tak ada satupun cahaya di hari itu. Awan mendung berlapis-lapis menambah kekelaman. Kemudian tak cukup sampai disitu, suara gemuruh seolah saling bersahutan. Hari itu laksana perpaduan antara air dan api, dua hal yang rasanya tak mungkin berpadu namun di hari itu mereka saling melengkapi.
Mengapa aku menyebutnya air dan api? Bukankah mereka adalah dua perpaduan yang saling bertolak belakang? Semua itu karena di hari itu awan sangat gelap, seolah tak akan pernah ditemukan setitikpun cahaya lagi. Namun mendadak goresan-goresan cahaya menyala diantara sela-selanya. Ya, dialah kilat yang terang benderang. Perpaduan antara kegelapan dan pencerahan, seolah satu tubuh yang tak terceraikan. Kemudian kilat tersebut mengantarkan gelegar gemuruh yang meruntuhkan langit dan menimpaku secara bertubi-tubi. Tak ada kata lain yang mewakili itu semua selain kebinasaan.
Ahh, rasanya siksaan Dia di dunia begitu dekat dan memenjarakanku di segala penjuru, cukup lama aku terkubur di bawah puing-puing langit. Namun, Dia berkehendak lain,

Sunday, April 21, 2013

Generasi Pelurus Bukan Penerus



“Welcome to Bloggers Shout Out Community”, kataku pada diriku sendiri. Apa itu BSO? BSO adalah sebuah komunitas para blogger yang direkomendasikan oleh temanku Pandu Wijaya Saputra. Dan well done, setelah aku membaca homepage komunitas ini, aku berfikir satu hal, “It’s really great”, kenapa? Karena visi misinya jelas, berbeda dengan komunitas blogger lainnya yang terhitung kurang disiplin meski banyak yang mengatakan ‘kedisiplinan’ itu tak jauh berbeda dengan ‘keribetan’. Komunitas ini memang ‘agak’ sedikit mengikat dan tegas. Bagaimana tidak, baru bergabunga saja langsung segambreng peraturannya. Haha.
Salah satunya adalah harus langsung membuat postingan pre-project ini yang isinya harus mempromosikan BSO. Tapi gak papa, emang layak dipromosiin juga kok. Selain itu setiap bulannya komunitas ini punya project khusus. Ini ya aku kutip salah satu kewajiban seluruh member di komunitas ini, “Berperan aktif dan mengikuti Blogger Campaign secara rutin setiap bulannya, penuh semangat, dan pastinya tepat pada waktu yang sudah ditentukan.”
Kemudian ada konsekuensinya juga :
1.       Pelanggaran pertama, akan diberikan peringatan
2.       Pelanggaran kedua, akan dikeluarkan #glek
Trus ada juga adminnya bilang gini, “Admin akan melakukan BLOG INSPECTION pada tanggal 2 setiap bulannya untuk memastikan kelengkapan kewajiban. Yang belum lengkap sampai tanggal 2, akan ter-kick out oleh admin.” #jleb

Thursday, April 18, 2013

Rahim Kami, Pembuka Surga



Selepas menyelesaikan dua tulisan yaitu #EdisiAbiOTW dan ‘Karena Perempuan Terkadang Lupa Betapa Berharga Dirinya’, aku mengambil sebuah buku berjudul Sirrul Asrar karya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, ternyata baru ku baca sinopsis dari sampul buku tersebut saja, karena ianya masih tersegel dengan rapi. Bahkan masih ada beberapa buku yang bernasib sama, mashaAllah. Serasa sedang menganak tirikan mereka, maaf. Cepat atau lambat, aku akan berkhalwat satu per satu dengan kalian, insyaAllah.
Kembali ke Sirrul Asrar, aku hanya mencapai bab ke tiga dari buku tersebut, aku benar-benar butuh waktu yang lebih lama untuk mengintrepretasikan tiap kalimat yang beliau sampaikan. Tiap untaian paragaraf dirangkai sedemikian rupa dari berbagai ayat Quran, hadits , kitab-kitab klasik dan tentunya hasil cerapan ilmu yang beliau miliki. Dan tak terasa jam sudah mendekati pukul satu dini hari. Demi kelangsungan keseimbangan tubuhku, aku memaksa diriku untuk menutup buku dan memejamkan mata. Lalu terbangun pukul empat, dan tahukah kalian apa yang ada dibenakku saat itu? Aku katakan, “Astaghfirullah, aku belum shalat ashar, sudah jam berapa ini!”. Ya begitulah, tingkat kesadaran membuat shubuh dan ashar menjadi area abu-abu. Dan setelah aku menyadari kebodohanku, aku tertawa dan kembali beristighfar, benar-benar menggelikan, hha.
Sekarang jam menunjukkan pukul 06.21 di pojok desktopku, ntah kenapa aku sangat ingin menceritakan kembali beberapa kisah yang berkaitan dengan dua tulisan ku sebelumnya, kisah-kisah ini mungkin telah banyak yang mengetahuinya, karena di beberapa buku yang aku baca atau dari penyampaian orang lain telah banyak yang membahas kisah inspiratif ini.
Akan aku mulai dengan kisah Ashim bin Umar bin Khatab Ra :

Karena Perempuan Terkadang Lupa Betapa Berharga Dirinya

 
Tiap melihat cover laman facebook diri sendiri, selalu ada bunga-bunga perasaan indah yang melintas kemudian semakin merekah. Sebuah mimpi yang terlalu indah untuk dibayangkan dan terlalu berkah untuk dimasuki. Sebuah keluarga yang beralaskan Islam, berdindingkan keimanan dan beratapkan keridhoan langit. Didalamnya selalu dibacakan kalam illahi Rabbi, didirikannya sunnah Rasulullah SAW, dan diliputi kecintaan karena Allah semata. Masha Allah. Benar-benar layaknya surga dunia.
Lalu kemudian aku bercermin, layak kah seorang perempuan seperti diriku mendapatkan itu semua? Namun tak ada jawaban layak atau tidak dari pantulan cermin itu, ia hanya tersenyum dengan wajah sendu dan mengatakan, “Kalau sekarang engkau merasa tak layak, maka buatlah dirimu layak mendapatkannya, karena engkau seorang perempuan.” Aku cermati benar-benar kalimat darinya, kemudian aku ikrarkan dalam hati, “Ya benar, aku harus membuat diriku layak, karena aku seorang perempuan!”
Saudariku tercinta, aku pernah membaca sebuah tweet yang mengutip pembicaraan antara malaikat dan Allah. Namun kekuatan sanadnya tidak disebutkan secara jelas. Suatu waktu malaikat bertanya, “Apa kekurangan wanita?” Lalu Allah menjawab, “Hanya satu hal, wanita terkadang lupa betapa berharga dirinya.” Wallahualam. Namun terlepas dari kekuatan sanad dari percakapan ini, marilah kita garis bawahi pernyataan, ‘Wanita terkadang lupa betapa berharga dirinya’ serta ucapanku yang mengatakan ‘Karena aku seorang perempuan!’. Beberapa menit kedepan aku akan berusaha membuka sedikit kesadaran kita semua sebagai seorang perempuan tentang betapa besarnya andil kita di dalam dunia dan betapa seringnya kita melalaikan kemuliaan luar biasa yang Allah sematkan ke hidup dan kehidupan kita.

#EdisiAbiOTW



Bismillahirahmanirahim, jujur dari awal penulisan ini, penulis benar-benar belum memiliki bayangan akan menjadi seperti apa tulisan ini akhirnya. Tulisan ini merupakan sebuah permintaan khusus dari seorang kakak perempuan yang selalu berdiri dan menginspirasi penulis selama ini. Baiklah, kita bahas dulu topik yang akan diangkat kali ini.
Semua ini berawal dari liqo para akhwat angkatan 2010 di musholla, tiap hari Sabtu dengan pembahasan yang berbeda-beda. Namun selalu ada satu pembahasan yang tak pernah luput dari liqo kami, apalagi kalau bukan tentang pernikahan. Hehe. Begitulah kenyataannya, obrolan tentang pernikahan serasa sebuah bahasan yang sangat menarik dan tak ada habisnya. Kadang kami tersenyum malu-malu atau tertawa saat membahasnya. Bahkan aku pernah mengatakan, “Kalo yii punya anak nanti, mau dikasih nama Muhammad Al-Fatih”, lalu mendadak Andam dan Devi dengan setengah berteriak mengatakan, “Aku juga mau ngasih nama ituu!” (gubrak). Dan akhirnya disepakati bahwa kemungkinan besar anak laki-laki kami nantinya memiliki nama yang sama yaitu Muhammad Al-Fatih, hanya berbeda di panggilannya saja,

Sunday, April 7, 2013

Untukmu yang Mengkhianatiku



Ada satu nama laki-laki yang pernah memenuhi kehidupanku secara totalitas. Saat itu ia ‘seolah’ membuatku menjadi perempuan paling bahagia di dunia karena cinta yang kami rasakan. Rasanya tak pernah sama sekali aku menenggelamkan diriku dalam suatu samudra cinta yang terlihat tenang di permukaan namun sangat bergejolak dibawahnya. Dia sosok yang sangat luar biasa menurutku. Secara teoritis aku mengidamkan seorang pasangan dengan tipikal romantis dan tidak monotone. Namun, hal itu benar-benar tak dipenuhi olehnya. Mungkin jika dibandingkan dengan laki-laki sebelumnya, maka ia benar-benar tidak romantis dan sangat monotone. Dan itulah aku, perempuan bernama Derry Oktriana yang mendadak berubah menjadi sosok lain. Aku meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar mencintainya karena satu hal yang tak dimiliki oleh siapapun sebelumnya, yaitu dia satu-satunya laki-laki yang mampu membuatku tersenyum bahkan tertawa tanpa ia harus melakukan apapun. Menggelikan namun sangat aku sukai segala percikan dari api cinta itu.
Satu kalimat yang tepat meluluhkan pertahanan hatiku adalah saat ia mengatakan, “Ntah kenapa, aku sangat yakin bahwa kaulah tulang rusukku.”

Friday, April 5, 2013

Mereka Bilang Aku Aneh





Melakukan suatu perubahan yang dianggap terlalu drastis bagi orang lain, mungkin terkesan ‘mengkhawatirkan’. Dan sedang terjadi pada hari-hariku. Baik itu orangtuaku, kakak, abang ipar, tante-tante dan bahkan sepupuku. Serasa aku sedang melakukan suatu tindakan asusila dan dihakimi secara sepihak. Benar-benar menggelikan.
Aku percaya dan aku berterima kasih atas perhatian lebih yang mereka tambatkan untukku. Aku tahu yang mereka inginkan hanyalah yang terbaik untukku. Namun aku ingin katakan, “Jalan yang aku ambil, bukanlah hal yang salah dan patut dicemaskan, percayalah, anak perempuan kalian ini merasa jauh lebih baik sekarang.”
Kadang aku tertawa saat mendengar celotehan mereka tentangku. Dibawah ini beberapa kutipan pernyataan mereka kepadaku :
“Emang harus ya kerudung gede dan lebar kayak gitu? Gak modis!” (di Al-Quran gitu sih katanya, emang yang penting itu di mata manusia atau di mata Allah dear?)
“Jangan ikut aliran macem-macem!” (ternyata kalo ada yang usaha jadi lebih bener langsung diduga ngikut aliran macem2, trus yang gak ngikutin Al-Quran itu aliran apa ya? #kalem)

Saturday, March 23, 2013

Rahasia Lilin dan Api



Aku mengupdate sebuah personal message di handphoneku yang bertuliskan, “Saat engkau meniup api dari sebuah lilin dan seketika ia padam, tahukah engkau kemana perginya api itu?”. Nah, sekarang coba Anda baca sekali lagi pertanyaan itu lalu aku berikan waktu untuk berpikir sejenak. Bagaimana? Sudah memiliki jawabannya? Baiklah, kita cocokkan jawaban-jawaban Anda dengan berbagai macam jawaban dari teman-temanku. Dengan inisial saja yah, yang merasa itu jawabannya, cuma mau bilang makasih karna udah mau jawab. Hehe. (^_^)
Ada temenku yang sama sekali gak mau mikir kayaknya dan ngejawab :
RB : Kemana perginya yi? Aku gak tau (ini tipe ditanya malah nanya balik,hihi)
Ada lagi, yang jawab sambil ngegombal :
DDN : Apinya pergi bersama hilangnya kegalauan hati gw (ini jawab sambil move on,hha)
AN : Pergi ke awang-awang bersama bidadari di surga(ini tak terdefinisi,wkwk)
Kalau yang barusan bawa-bawa surga, yang satu ini lebih ekstrim :
PK : Ke neraka, wkwkwk (ini kebanyakan main api,hha)
Ada juga yang jawabnya pendekatan ilmiah :
DIP : Berubah bentuk ya? (ini orang yang paham hukum kekekalan energi,hoho)
RA : Hilang ditelan James Watt (dia bilang ini kelirumonologi, kan seharusnya Thomas Alfa Edison)
OPW : Kehirup yii apinya, disaring di hidung, diolah di paru-paru, dibuang ampasnya dari mulut, haha (ini anak sains murni kayaknya,wkwk)
Nah, ada juga yang nyebelin banget jawabnya :
MR : Pergi jauh ntah kemana menn, udah gak usah aneh-anehlah menn, yang real-real aja (ini anak gaul yang jawab,haha)
Jawaban-jawaban mereka itu semua udah cukup memenuhi harapan aku sesungguhnya. Sangat memenuhi malah. Kenapa? Kita bahas satu jawaban yang paling mendekati ya

Tuesday, March 19, 2013

Sakit Jiwa


“Sakit jiwa!!!”, dua kata yang beberapa bulan terakhir ini kerap kali didengungkan di telingaku. Awalnya hanya segelintir orang yang mengatakannya, yah hanya teman-teman sekitaranku dengan ungkapan, “Sakit jiwa lu Der!!!” atau “Lu tuh freak banget Der!!!”. Dan responku hanyalah tertawa sambil mengatakan, “Iye, udah hampir schizofren ini menn.” Tentu saja mereka semakin menimpali dengan, “Emang udah sinting lu Der!!!”. Akhirnya kamipun tertawa bersama, haha. Ntah apa yang ada di pikiranku, menertawai diriku sendiri sepertinya. Perbuatan bodoh yang cukup menjadi rutinitas belakangan ini.
Dan sekarang, dua kata mematikan itu kembali menjadi perdebatan di meja makan. Aku memiliki seorang abang sepupu bernama Maulana Okta Rheza, ia sedang mengambil stase koasnya di bidang kejiwaan. Yah, dia seorang dokter muda dari Universitas Trisakti. Mungkin ini kesekian kalinya dia mengatakan hal yang sama dan berulang-ulang. Awalnya saat aku memangkas rambutku hingga tak lebih dari 2cm, dia mengatakan “Lu depresi banget ya Der? Mending lu cek dah ke dokter!”. Lalu sekitar beberapa minggu yang lalu ia katakan, “Lu tuh punya potensi besar buat sakit jiwa, asal ada pemicu yang cocok aja, lu bisa-bisa sakit jiwa beneran, kalo udah sampe schizofren, udah dah gak bakal sembuh lagi, percaya kata gua!”. Dan hari ini 19 Maret 2013,

Tuesday, March 12, 2013

The Inspiring True Love Story


Aku baru saja menghabiskan satu buku yang berjudul “Balada Cinta Suci Ali-Fatimah” karya Badiatul Roziqin. Baru saja di bab pertama air mataku telah mengucur dan hingga di pertengahan bab kedua air mataku telah menggenang laksana banjir. Masha Allah, buku ini benar-benar meruntuhkan pertahananku, mendesirkan kelembutan hati yang amat sangat dalam. Tak banyak yang dapat aku katakan, namun aku akan mengutip sebuah hadits Rasulullah yang terdapat dalam buku ini :
“Bila Fatimah tidak diciptakan, Ali tidak akan mempunyai isteri. Bila Ali tidak diciptakan, maka Fatimah tidak akan memiliki pasangan.”
Begitulah luar biasanya kedua pasangan ini hingga Rasulullah SAW banyak sekali menjadikan mereka suri tauladan bagi umatnya. Mungkin telah banyak yang mengetahui bahwa sebelum menikah dengan Ali, Fatimah telah dilamar oleh Abu Bakar dan Umar, namun dengan halus Rasulullah berkata, “Tunggulah ketetapan dari Allah.” Dan jawaban itulah yang menyadarkan Abu Bakar dan Umar bahwa lamaran mereka ditolak. Lalu bagaimana dengan Ali? Dia sangat segan untuk melamar Fatimah karena ia tak memiliki sesuatu apapun untuk dijadikan mahar ditambah lagi dengan penolakan Rasul terhadap dua orang yang menurutnya sangat layak sebagai pendamping Fatimah. Namun atas dorongan dari kerabat, Ali pun memberanikan diri untuk menghadap Rasulullah.
Hari itu Ali mengetuk pintu Rasulullah dan hendak mengutarakan niatnya melamar Fatimah. Namun mendadak lidahnya kelu tak mampu mengucapkan sepatah katapun saat Rasulullah berada di hadapannya.

Saturday, March 9, 2013

Karena Keperawanan Tak Kenal Chapter Kedua


Tulisanku sebelumnya telah mempromosikan buku karangan Ustadz Felix Siauw yang berjudul “Udah Putusin Aja”. Kali ini aku ingin membahas mengenai salah satu opini yang dikemukakan oleh beliau dalam bukunya tersebut. Berhubung buku yang aku miliki sedang berhijrah dari satu tangan ke tangan yang lain. Jadi pengutipan opini ini mungkin agak berbeda dari buku aslinya, namun insyaAllah dengan maksud dan tujuan yang sama. Sudah siap? Ini bunyinya :
Seorang laki-laki menginginkan calon istri yang baik MASA LALUNYA, sedangkan
Seorang perempuan menginginkan calon suami yang baik MASA DEPANNYA
Nah, bagaimana menurut pendapat kalian? Jika masih belum cukup paham, monggo dibaca ulang opini tersebut. Keduanya memiliki maksud dan tujuan yang sama, yaitu mengenai calon pendamping hidup dan kehidupan. Namun ada perbedaan yang sangat kontras disana, yaitu antara dua masa yang tentu saja berbeda. Karena masa lalu adalah masa dimana segala hal, baik itu menyenangkan maupun menyedihkan ‘telah’ terjadi. Sedangkan masa depan adalah masa dimana segala hal, baik itu menyenangkan maupun menyedihkan ‘belum’ terjadi. Layaknya seorang ulama pernah berkata, “Sesuatu yang jaraknya paling jauh adalah masa lalu, karena sedetikpun kita tak akan mampu kembali kepadanya”. Lalu bagaimana? Apakah ini semua adil untuk para perempuan? Mari kita lanjutkan pembahasan ini dengan sebuah paparan yang telah aku olah dari sebuah percakapan dengan seorang laki-laki. Sehingga kita sebagai kaum Hawa dapat mengetahui secara langsung sudut pandang dari seorang makhluk yang menyebut dirinya kaum Adam ini.

Udah Putusin Aja


Felix Siauw, seorang ustadz yang baru saja mengeluarkan buku yang berjudul “Udah Putusin Aja”. Aku berusaha mencari buku ini di beberapa toko buku seputaran margonda, namun tetap saja sudah sold out. Dan pencarianku berakhir saat mengunjungi stan mizan di Islamic Book Fair (IBF) pada hari Sabtu pekan lalu. Buku ini berwarna merah jambu, cukup mencolok diantara buku-buku yang lain. Apalagi dengan sebuah judul kontroversial yang dimilikinya.
Buku ini sangat menarik, karena di visualisasikan secara ‘cerdas’ oleh Emerelda Noor Achmi. Sehingga tak hanya tulisan-tulisan panjang yang akan kita temukan disana, melainkan halaman-halaman penuh warna, gambar dan cara penulisan yang santai namun ‘jleb’. Selain itu, kolom-kolom penulisan dibuat seperti sebuah majalah atau bahkan penyusunan komik layaknya buku cerita anak-anak. Namun tentu saja isinya tidak remeh, isinya sarat makna dan sangat berkualitas.
Akan banyak sekali paparan yang ditulis secara frontal dan memaksa hati dan logika kita untuk merenung lalu menyetujui hampir dari seluruh bagian buku tersebut. Maka dengan sangat antusias, saya akan mengatakan pada Anda. Beli dan baca buku ini, segera! Atau pinjam dari teman Anda yang sudah memilikinya. Dan bagi yang sudah memilikinya harap meminjamkan kepada teman-teman Anda. Karena tak ada kebaikan yang layak untuk ditunda, right? Percayalah, buku ini sangat bermanfaat hampir untuk seluruh generasi. Baik tua maupun muda. Laki-laki maupun perempuan. Remaja hingga tua renta. Jadi tunggu apalagi? Dibaca segera ya, hehe. (^_^)

Reborn of Derry Oktriana


Belakangan ini aku sering sekali mematut diri di depan kaca lalu berbicara dengan pantulan wajah di cermin itu. Atau duduk di atas sajadah setelah shalat sambil berinteraksi langsung dengan diri sendiri. Kadang aku memanggilnya Oktriana, kadang aku memanggilnya lengkap dengan sebutan Derry Oktriana atau kadang aku menyebutnya saudara perempuanku. Hal ini kadang terasa aneh, namun lama kelamaan menjadi hal yang lumrah bagiku. Karena ada satu makhluk yang menemani kita selama ini namun jarang sekali kita dengarkan, jarang sekali kita meminta maaf kepadanya. Dan makhluk itu adalah diri kita sendiri.
Aku sangat percaya dengan ungkapan yang mengatakan bahwa memaafkan kesalahan orang lain jauh lebih mudah ketimbang memaafkan kesalahan diri sendiri. Dan hal ini terjadi padaku. Kadang aku berfikir aku terlalu menuntut banyak pada jasad dan jiwa ini. Ia terus-terusan mengabdikan dirinya pada orang-orang yang seharusnya ia laknat mentah-mentah. Padahal secara fitrah dan kodrati manusia hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tenang. Lalu untuk apa menuhankan orang lain? Untuk apa menuhankan makhluk yang sama-sama berawal dari setetes air yang hina?

Wednesday, February 20, 2013

Pernah Jatuh Cinta?

Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Hati mendadak selalu berbunga-bunga? Semua orang tiba-tiba memiliki wangi yang sama dengan parfumnya? Hati cetar-cetar saat ada yang menyebut namanya? Atau mungkin ada yang sudah menjalin hubungan terhitung lama, lalu dunia serasa hanya milik berdua, bahkan meyakini diri bahwa memang dialah yang dijodohkan Allah untuk kita? Itulah salah satu bagian ‘kebahagiaan’ yang dirasakan oleh dua orang yang sedang kasmaran.
Tapi tunggu dulu, masih ada bagian lain yang tak boleh kita abaikan, yaitu bagian ‘kesedihan’. Kenapa? Karena suatu hubungan tak akan pernah luput dari masalah. Kadang cemburu, salah paham, kurang komunikasi, jarang bertemu, ngambekan, terlalu sibuk, posesif, dan masih banyak lagi. Yang harusnya baik-baik aja, eh malah jadi masalah besar. Yang kecil dibesar-besarin, yang besar malah makin dibesarin. Yang tadi judulnya bahagia mulai diliputi galau, labil, murung sana-sini. Lelah deh. Hehe.
Aku pribadi udah tau banget lika-liku hubungan yang disebut ‘pacaran’. Gimana enggak, mantan udah punya beberapa, bahkan yang terakhir udah serius banget ‘kayaknya’. Inget dan digaris bawahi ya, ‘kayaknya’. Kalem aja kayak katanya Yusuf Mansur. Hihi.

Tuesday, February 19, 2013

A Friend in Need is A Friend Indeed



Kali ini aku hanya ingin mengutip beberapa pesan melalui sms, bbm atau beberapa komentar di dunia maya. Semoga dengan ini, dapat terus mengingatkanku tentang mereka yang masih ada saat aku terpuruk. Dan tentunya aku akan terus bangkit dengan hati yang baru, jiwa yang baru dan segala pembaruan ke arah yang lebih baik. Karena Allah ada disana. Bismillah.
Nama pertama : Andam Dewi Pertiwi
Andam    : Katanya, beras merah, salmon, daging kalkun, & banana split bisa meningkatkan serotonin, senyawa yang bisa bikin jiwa tenang dan bahagia, coba deh, hehe, tapi pakek doa aja, gratis dan bisa sepuasnya lagi
Aku           : Iyah ndam, kadang kita emang gak punya pundak untuk bersandar, tapi inget aja kalo kita slalu punya tanah untuk bersujud :’)
Andam    : Mantap, ini baru yang namanya yii (^_^)

Nama kedua : Maya Sofia Suhendar
Maya        : Yii kenapa? Tentor maya harus semangat n optimis dong kayak yii yang dulu slalu nyemangatin Maya
Aku           : *speechless* makasih May :’)

Nama ketiga : Rohmah Ruyani
Kakak       : Gimana kabar Tanjungpinang yii?
Aku           : Kabar pinang baik kak, kabar adek nih yang mengkhawatirkan, hehe

Bacalah dan Berbahagialah


Tulisan ini adalah tulisan yang ditulis dari sudut pandang pribadiku. Ditujukan kepada orang-orang yang masih meragukan ‘kinerja alam semesta’ terhadap hidup dan kehidupan kita. Semoga dengan sekelumit kisah yang akan aku paparkan kali ini, dapat menginspirasi kita semua mengenai betapa Mahabijaksananya Allah SWT. Amin.
Kisah pertama dimulai dari sebuah musholla di fakultasku. Hari itu aku masih dalam keadaan sangat-sangat terguncang dan benar-benar rapuh. Mungkin jika seluruh lagu sedih di dunia dikumpulkan menjadi satu, belum juga cukup untuk mewakili kesedihanku. Setelah menunaikan shalat sunnah Dhuha lalu dilanjutkan dengan tilawah, aku bermunajat kepada Allah agar Dia berkenan memberi aku petunjuk. Untuk mengobati hatiku dengan segera sebelum aku membinasakan diriku sendiri. Bersabar dan terus bersabar, hanya itu yang bisa aku lakukan. Dan ntah kenapa, aku tiba-tiba sangat ingin menyandarkan punggungku sejenak di lemari kaca yang berisikan buku-buku perpustakaan Al-Azzam.
Tak lama berselang, aku mendadak mengangkat tanganku dan mengambil salah satu buku di dalamnya tanpa melihat ke dalam lemari buku. Saat aku meletakkan buku yang aku dapati secara random itu tepat di hadapanku, aku sedikit kaget bercampur haru. Kedua mataku langsung berkaca-kaca dan nafasku mulai tak beraturan. Kalian tau kenapa? Karena alam semesta memberikan aku jawaban. Buku tersebut berukuran agak kecil dan berwarna ungu. Dan di sampul depannya tertulis, “Wahai Kaum Wanita Jangan Bersedih, Jadilah Anda Wanita yang Paling Bahagia”. Sebuah karya luar biasa dari Dr.‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni.
Tak perlu waktu lama untuk aku melahap habis lembar demi lembar yang diisi dengan senyuman, tawa kecil hingga tangis penuh syukur dan bahagia. Kini biarkan aku mengutip bagian persembahan dari buku ini :

Sunday, February 17, 2013

Kalian juga Keajaiban


Alhamdulillah. Kata ini yang aku gunakan untuk memulai seluruh tulisan ini nantinya. Sebuah tulisan yang diisi dengan penuh rasa syukur atas segala keajaiban hidup yang Allah titipkan padaku. Akan ada beberapa nama yang menghiasi tulisan kali ini. Beberapa orang teman sebaya dan seniorku.
Mungkin harus dimulai dengan satu nama anak perempuan yang duduk tepat disampingku saat mata kuliah Farmasi Fisika. Sebuah mata kuliah yang menjadi pembuka di tahun pertamaku menjadi seorang mahasiswi jurusan farmasi di Universitas Pancasila. Anak ini bernama, Andam Dewi Pertiwi. Gadis yang tampak sederhana, ramah dan cenderung tak banyak bicara. Tapi tentu saja itu hanyalah sebuah kesan pertama. Karena setelah ini akan banyak perubahan pandangan yang akan aku lemparkan tentang dirinya. Hehe.
Ya, Andam Dewi Pertiwi. Ntahlah, aku bingung harus menulis apa tentangnya. Dia seperti seorang teman yang komplit untukku. Dia sosok periang, cerdas dengan kalimat-kalimatnya yang kadang tak pernah terfikirkan olehku, ditambah lagi dengan berbagai gombalannya yang berbau farmasi. Dia benar-benar sosok gadis yang menyenangkan menurutku. Yah meski kadang ia terkesan menyebalkan karena kesibukannya yang slalu membuatnya harus mampir alias ‘nyangkut’ disana-sini. Ditambah lagi dengan sifat moodnya yang kadang-kadang mendadak berubah. Dia juga memiliki masalah dengan ketelitian, sedikit gugup dan kadang mengambil keputusan yang kurang rasional menurutku. Tapi ada satu hal yang akan aku ingat tentang dirinya, dialah yang menginspirasiku untuk meninggalkan semua celana jeans yang aku punya. Menggantinya dengan setelan rok atau gamis. Dan aku sebut ini ‘revolusi’ bukan ‘evolusi’ yang berjalan lambat.

Saturday, February 16, 2013

Keajaiban itu Aku


Pernah merasakan keajaiban? Atau pernah merasakan dikelilingi oleh keajaiban? Aku teringat sebuah kalimat Albert Einstein yang mengatakan bahwa ada dua cara untuk menjalani kehidupan, pertama menganggap keajaiban itu tidak ada, kedua mengganggap semuanya adalah sebuah keajaiban. Menurut Anda, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya, tentu saja jika kita memilih pilhan kedua, aku akan mengatakan dengan lantang kepada Anda, “Selamat menikmati keajaiban.” Karena hidup adalah pilihan, apa yang Anda rasakan dan Anda percayai adalah hal-hal yang memiliki kekuatan untuk terwujud. Itu nyata.
Mungkin harus ada contoh konkrit yang menunjukkan bagaimana keajaiban itu dapat terjadi. Bisa dimulai dari diri sendiri, orang-orang terdekat kita atau melalui biografi tokoh-tokoh tertentu. Kali ini aku akan membahas dari sudut pandang pribadi seorang Derry Oktriana.
Keajaiban, sebuah kata yang indah saat diucapkan. Memiliki sebuah daya magis yang tak mampu terdefinisi secara totalitas. Ada kekuatan Allah disana. Layaknya risalah langit yang turun melalui jemari para malaikat. Dan telah tertulis secara megah dalam Lauhul Mahfudz.
Tulisan kali ini akan membawa Anda untuk mencermati lebih dalam dengan hati nurani tentang segala keajaiban yang terjadi dalam hidup dan kehidupan Anda sendiri. Sebelumnya aku berharap Anda akan melakukan hal-hal yang aku tulis setelah ini. Janji ya. Hehe.

Saturday, February 9, 2013

Aku Sudah Tidak Sedih Lagi



6 Februari 2013. Aku mengawali hari ini dengan satu nafas panjang yang sangat berat dan tersekat di kedua rongga rusukku. Aku melakukannya lagi, suatu monolog yang tak kunjung usai. Atas nama kelemahan keperempuananku dan atas nama seorang wanita yang meletakkan perasaan jauh di atas logikanya. Tak satupun air mata akan kubiarkan jatuh untuk hari ini. Tapi, tetap saja. Aku seolah sedang mati untuknya. Potongan hati ini berserakan dengan mengucurkan luka darah. Mereka mengatakan, “Aku mengerti, karena kau seorang perempuan sama sepertiku.” Aku terdiam dan membiarkan kalimat itu terputar berulang-ulang dalam pendengaranku. Lalu aku terbentur pada suatu dinding besar yang membuatku teramat sangat ingin berteriak, “Kalau begitu, sebagai seorang perempuan, sekarang katakan padaku bagaimana aku harus menghadapinya, apa yang harus perempuan ini lakukan? Tunjukkan aku bagaimana caranya menghentikan pisau yang terus bergerak dan menyayat jiwaku ini.”
Namun, tentu saja teriakan itu hanya karam dalam batinku. Banyak yang ingin aku katakan, tapi aku lebih memilih diam, mengubur semuanya rapat-rapat hanya untuk diriku seorang.

Shahzadi Ibadat


Lamunan macam apa ini, sebuah lamunan yang membenturkan kembali jiwaku pada masa lalu yang ingin aku tentang secara totalitas. Teriakan itu mengguncang nadiku, melemahkan kembali pertahanan yang selama ini aku bangun. Pertanyaan bodoh tentang cinta yang dilontarkan kepadaku. Apa yang harus aku katakan mengenai itu semua? Mereka ingin mendengar jawabanku kini atau yang dahulu? Aku bukan perempuan yang sama layaknya beberapa tahun yang lalu. Perempuan yang selalu mendongakkan kepalanya, merasa dirinya wanita paling beruntung sedunia karena dikelilingi nikmat kehidupan yang tak banyak orang memilikinya. Seorang perempuan yang bersinar dan dikenal. Seorang perempuan yang menentukan pilihan dengan jari telunjuknya kemudian mebuangnya begitu saja apabila ia sudah tidak berkenan. Perempuan yang menganggap bahwa pembalasan itu haruslah dia yang melakukannya dengan kedua tangannya sendiri.
Tapi lihatlah sekarang, perempuan ini menjelma menjadi sosok lain. Pandangannya cenderung tertunduk sekarang. Ia lepaskan segala jubah kesombongan yang semata-mata hanyalah milik Allah. Ia berusaha menyederhanakan rasanya, tutur katanya dan pakaiannya. Ia rendahkan dirinya karena pilihan sedang tidak memihak padanya. Nasib sedang bersekongkol melawan jiwanya yang terlanjur luluh lantak.

Pemakaman Untukmu



Aku merasa menjadi seorang pengkhianat tiap menit ke menit. Sebuah pengkhianatan terhadap diri sendiri yang terus berlangsung tanpa jeda. Aku teringat di hari itu, hari dimana aku kehilangan seorang perempuan dan tlah aku kuburkan tepat di bawah kedua kakiku. Dia menangis dan meronta memohon pertolongan dan belas kasihan. Tapi aku tak membiarkannya, dengan tangis dan darah yang masih mengalir, aku menguburkannya hidup-hidup. Aku tlah menyiapkan lubang pemakamannya jauh sebelum hari ini, hanya saja keberanian itu baru ku rengkuh. Aku membiarkannya mati. Mati sesegera mungkin di bawah sana. Karena penduduk bumi hanya akan membunuhnya secara perlahan. Aku benar-benar tak tahan melihat itu semua. Biarkan aku yang menjadi penjahat demi ketenangan dirinya, aku bungkam teriakannya, aku hentikan tangisnya, dan aku balut seluruh perih lukanya. Kini dia sudah terdiam, membeku dengan mulutnya yang mengatup rapat. Tapi butiran air mata itu masih menggenangi kuburnya. Ternyata luka itu masih bersemayam dalam jiwanya. Jasadnya boleh mati namun hatinya masih rapuh dengan luka yang menganga.
Suatu hari jiwa itu akan bangkit dari kuburnya. Memenuhi panggilan Sang Pencipta. Atau aku yang harus membongkar kuburnya dan membiarkan ia hidup kembali?

Penduduk Bawah Tanah


Langit tampak pekat dengan hitamnya kelam, siang sudah berganti malam, terang sudah ditelan gelap. Untung saja bulan sedang purnama, ada cahaya tegas melingkar di sudut sana. Angin sepertinya enggan berhembus, tak ada satupun daun yang bergerak. Hanya jangkrik yang menyanyikan lagu sendu tak berujung. Kelelawar keluar dari sarangnya, saatnya bangun dan terbang bebas mengisi kekosongan perutnya.
Malam hari, benar-benar mewakilkan suasana peristirahatan kita nantinya. Gelap, sunyi, dan digerogoti ketakutan. Aku ingin berlari ke sebuah pemakaman sekarang, duduk di salah satu makam yang letaknya agak tinggi, lalu melihat ke sekeliling. Pasti sangat menakjubkan merasakan hawa kehadiran penduduk ‘bawah tanah’, bukankah berbicara dengan penduduk bumi hanya menambah luka dan tetap tak mengobati?

Jemput Aku dengan Cara-Mu


13 Januari 2013, jemariku terhenti seketika. Tak kutemukan satu katapun yang dapat menggambarkan keadaan jiwa terdalamku sekarang. Aku benar-benar tidak menyukai periode bulanan ku harus datang secepat ini. Aku membutuhkan kenikmatan shalat sekarang, namun kenikmatan itu terenggut karena ketidak suciannya jasad ini. Allah, hentikan darah ini. Aku benar-benar ingin rukuk dan sujud dihadapanMu. Esok, ntah apa yang akan terjadi esok hari. Ntah kenapa, kepulangan ku kali ini masih menyisakan rasa tidak nyaman. Rasanya tak ingin pulang ke bumi segantang lada lagi, benar-benar tak ingin menyatukan diri dengan tanah. Ada sebersit keinginan untuk mendaki ke atas langit, naik hingga ke Arsy dan bertemu denganMu. Tapi apa daya, memikirkan kematian saja membuatku menangis ketakutan akan siksaanmu. Tolong, kasihani aku. Ampuni aku. Matikan aku dalam keadaan khusnul khotimah. Matikan aku dalam keadaan berbaik sangka akan takdirMu. Jujur, ketakutan ini semakin menjadi. Aku takut Kau meninggalkanku. Aku takut tak dapat bertemu dengan Rasulullah. Aku takut. Aku takut. Aku takut.
Ku pejamkan mataku sejenak, merasakan kehadiranMu. Aku ingin bebas. Bernafas lega. Tersenyum bahkan tertawa. Aku ingin menjadi wanita paling bahagia di dunia karena aku mencintaiMu dan Kau membalas cintaku dengan segala sesuatu yang jauh lebih luar biasa. Aku ingin mereka melihat bahwa Kau lah yang membuatku bebas dan semakin kuat.

Hijrah? Bismillah

Kamis, 10 Januari 2013. Sore itu awan mendadak kabut, langit mendadak gelap diiringi hembusan angin yang mengandung serpihan hujan. Kami meluncur ke suatu rumah yang bersebelahan dengan sebuah masjid. Rumah yang memberikan kesan tentram dan damai di dalamnya. Dengan kepala tertunduk dan berusaha menyembunyikan bulir-bulir air dari sudut mataku, aku merangkai kata demi kata untuk menggambarkan keadaan jiwaku saat ini. Beliau mengatakan banyak hal, sembari menanggapi blog yang berisi belasan postingan teriakan batinku. Ntah hal apa yang harus ku tulis kini, seluruh kalimatnya berputar-putar di alam bawah sadarku. Aku tau benar tentang semua yang akan dan telah beliau katakan. Keberanian yang kubawa saat itu hanyalah untuk mendengarnya langsung dari mulut beliau. Aku telah berjanji di ashar itu, apapun yang akan beliau katakan dan anjurkan padaku akan ku jadikan bentuk tawakkal dan keridhoanku. Bukankah selama ini aku berharap Allah memberikan jawaban frontal bagiku? Inilah dia, ku anggap beliau sebagai sosok perantara Allah kepadaku.

Muhasabah Cintaku


Muhsaf itu masih terbuka, sajadah masih terbentang, dan mukenah belum tersingkap. Tanganku meraih netbook lalu terlihat di sudut bawah layar, 5 Januari 2013, 12:49. Sudah tahun 2013, bagaimana jika aku menggangap tahun ini 2012a? Haha. Bukankah banyak orang yang menganggap angka 13 itu membawa kesialan? Tapi sepertinya aku tidak termasuk orang-orang seperti mereka. Aku dengan sepenuhnya sadar memesan tiket penerbangan tanggal 13 Januari 2013. Angka bagus untuk memulai semuanya atau angka bagus untuk mengakhiri semuanya? Aku benar-benar harus berfikir keras tentang hal itu. Semoga Dia segera memberikan aku petunjuk. Amin.
Kini diawali dengan senyum merekah, aku memutar lagu Edcoustic-Muhasabah Cinta. Dan aku tau pasti, senyuman ini akan berakhir dengan tangisan ketakutan penuh harap akan ridhoNya.
“Wahai pemilik nyawaku, betapa lemah diriku ini, berat ujian dariMu, kupasrahkan semua padamu.” Yak, tak perlu menunggu lama, aku tersenyum sambil mengalirkan butiran hangat ini lagi dan lagi. Dulu, aku selalu menangis terisak-isak di hadapanMu. Sekarang? Tidak. Aku sudah berhasil menangis sembari tersenyum bahkan tertawa di hadapanMu. Aku berteriak padaMu sekarang, jika guru hanya diam saat mengawasi ujian para muridnya. Maka mungkin sekarang Kau juga sedang diam dan mengawasi ujianku ini. Lalu pertanyaannya adalah, “Kapan ujian ini berakhir? Kapan Kau akan membunyikan bel tanda berakhirnya ujian ini?”