Sunday, February 17, 2013

Kalian juga Keajaiban


Alhamdulillah. Kata ini yang aku gunakan untuk memulai seluruh tulisan ini nantinya. Sebuah tulisan yang diisi dengan penuh rasa syukur atas segala keajaiban hidup yang Allah titipkan padaku. Akan ada beberapa nama yang menghiasi tulisan kali ini. Beberapa orang teman sebaya dan seniorku.
Mungkin harus dimulai dengan satu nama anak perempuan yang duduk tepat disampingku saat mata kuliah Farmasi Fisika. Sebuah mata kuliah yang menjadi pembuka di tahun pertamaku menjadi seorang mahasiswi jurusan farmasi di Universitas Pancasila. Anak ini bernama, Andam Dewi Pertiwi. Gadis yang tampak sederhana, ramah dan cenderung tak banyak bicara. Tapi tentu saja itu hanyalah sebuah kesan pertama. Karena setelah ini akan banyak perubahan pandangan yang akan aku lemparkan tentang dirinya. Hehe.
Ya, Andam Dewi Pertiwi. Ntahlah, aku bingung harus menulis apa tentangnya. Dia seperti seorang teman yang komplit untukku. Dia sosok periang, cerdas dengan kalimat-kalimatnya yang kadang tak pernah terfikirkan olehku, ditambah lagi dengan berbagai gombalannya yang berbau farmasi. Dia benar-benar sosok gadis yang menyenangkan menurutku. Yah meski kadang ia terkesan menyebalkan karena kesibukannya yang slalu membuatnya harus mampir alias ‘nyangkut’ disana-sini. Ditambah lagi dengan sifat moodnya yang kadang-kadang mendadak berubah. Dia juga memiliki masalah dengan ketelitian, sedikit gugup dan kadang mengambil keputusan yang kurang rasional menurutku. Tapi ada satu hal yang akan aku ingat tentang dirinya, dialah yang menginspirasiku untuk meninggalkan semua celana jeans yang aku punya. Menggantinya dengan setelan rok atau gamis. Dan aku sebut ini ‘revolusi’ bukan ‘evolusi’ yang berjalan lambat.
Selain semua hal yang tlah aku sebutkan. Dia juga seorang gadis yang memiliki potensi untuk menyemangatiku. Kalimat-kalimat nasihat yang bersendikan agama namun tetap bertulangkan fleksibilitas ringan dan tidak luput dari candaan selalu ia luncurkan untukku. Pokoknya Andam Dewi Pertiwi itu sosok yang super. Hohoho.
Baiklah, kita lanjutkan dengan sosok gadis kedua. Namanya Ardiyanti Puspita Sari. Gadis inilah yang meminjamkan jas laboratorium yang ia miliki kepadaku, karena aku belum mendapatkannya dari pihak kampus. Dia seorang gadis yang cenderung sulit ditebak. Sosok gadis yang ulet, sedikit perasa atau sensitif, namun sangat bertanggungjawab terhadap kewajiban yang diberikan kepadanya. Dia juga kreatif, ramah namun cenderung tempramen dan tidak berani mengambil resiko. Tapi dia adalah sosok gadis yang bijaksana, mau mengayomi orang lain dan memiliki sifat keibuan, mungkin karena ia adalah anak pertama. Hal yang paling aku kagumi adalah dia bisa memendam perasaannya dengan baik dan menguncinya rapat untuk ia seorang. Dia lebih memilih untuk diam ketimbang membicarakan apa yang ia rasakan. Kadang hal ini sangat baik menurutku, namun adakalanya diam tak akan menyelesaikan masalah. Untuk Ardiyanti, apapun masalahnya, kita semua ada buat jadi pendengar yang baik bahkan dapat berdiri disana untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Ingat itu selalu ya. Hehe.
Sekarang sosok gadis ketiga. Putri Karimah, nama yang indah bukan? Seorang putri yang mulia. Dia kerap disapa PK. Singakatan dari namanya. Anak ini anak gaul seantero angkatan. Dengan logat betawi yang aduhai ditambah lagi dengan kosa kata yang hanya dimengerti oleh dia dan Allah. Haha. Dia seorang gadis yang bermasalah dengan pola tidur. Jarang sekali bisa melewati jam mata kuliah tanpa tidur di kelas. Dia juga sulit untuk dikatakan benar-benar mewakili sosok perempuan, mengingat sisi keperempuanannya yang relatif rendah. Namun semenjak patah hati, ia berangsur menjadi perempuan. Mulai memperhatikan penampilan, mengurangi nada suaranya yang cenderung tinggi alias berbicara sambil teriak-teriak. Haha. Tapi PK tetaplah PK. Dia sosok yang mengajarkan aku tentang kekuatan, ketidakpedulian dan harus menunjukkan ke orang lain bahwa kita bisa bangkit. Dulu aku yang mengajarkan kepadanya sebuah kalimat, “Dia yang bakal nyesel karna nyia2in cewek kayak kita, dan kita yang beruntung karna udah lepas dari dia.” Dan sekarang, kalimat itu yang aku ucapkan dengan lantang disertai kepala yang tegak kedepan. Aku bisa, aku pasti bisa, Allah ada disana. Amin.
Selain itu, aku juga pernah menangis terisak di hadapannya saat menunggu adzan zhuhur di musholla. Aku katakan padanya, “Mengapa saat aku ingin istiqomah, cobaan datang bertubi-tubi seolah ingin membunuhku?” Dan yang ia katakan adalah, “Makin tinggi iman seseorang, makin berat pula ujian yang akan diberikan oleh Allah.” Tapi kadang aku teringat kalimatku sendiri, “Perbedaan antara ujian dan siksa itu terletak pada bagaimana kita menanggapinya. Jika kita bisa mengambil hikmah maka itu disebut ujian, namun jika kita semakin jauh dari ZatNya maka itu disebut siksa.” Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat mengambil hikmah dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi setelah segala ujian yang diberikan oleh Allah. Amin amin ya Rabbal ‘alamin.
Sekarang kita beralih ke gadis yang keempat, Devi Syukmawaty. Dia sedang diberi amanah untuk menjadi ketua keputrian di FFUP tahun ini. Dia sosok yang sangat-sangat keibuan, lembut, dan murah senyum. Dia juga sosok yang menenangkan. Aku sering melihat matanya yang berbinar-binar saat berbicara. Dia selalu berhasil memadukan antara senyumnya dan sorot matanya yang mewakili rasa bahagianya kepada kami semua. Dia juga memiliki semangat yang luar biasa menurutku. Hal yang paling menyentuh bagiku tentangnya adalah saat ia menyemangatiku. Dia pernah mengatakan, “Tangkap sinyal2 hidayah dari Allah itu.” Lalu mendoakanku untuk tetap dapat istiqomah dalam keistiqomahan. Bismillah ya bismillah. Aku akan selalu mengingat pesannya itu. Dan semoga kita semua dapat selalu dituntun oleh Allah ke jalan yang lurus yang dipenuhi keridhoan dari langit. Amin.
Sudah ada empat orang gadis yang seangkatan denganku. Kali ini aku ingin menyebutkan satu nama. Rohmah Ruyani, dia kakak seniorku. Alhamdulillah sudah menamatkan sarjana kefarmasiannya tahun lalu. Dulu, aku menganggapnya sosok yang sangat sulit untuk dijangkau. Sosok yang terlalu alim dan memandang rendah orang-orang sepertiku. Tapi itulah bukti pepatah, “Tak kenal maka tak sayang.” Setelah beberapa waktu berselang, aku menjadi jatuh hati pada sosoknya. Dengan suaranya yang sangat khas, serak-serak gimana gitu. Hehe. Selalu rajin memotivasi adik-adik juniornya yang disertai pesan-pesan sarat nuansa Islami.
Dia juga salah seorang sosok yang berhasil menyulap aku seperti sekarang. Aku mendadak memutuskan hubungan yang sedang aku jalin saat itu hanya karena ucapannya, “Kita kan anak ROHIS, jadi kalau bisa kita lebih menjaga sikap.” Sesungguhnya kalimat itu tidak ditujukan untukku, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan yang sedang aku jalin saat itu dengan seorang pria. Namun, itulah yang mungkin layak aku sebut dengan hidayah. Keesokan harinya aku langsung memutuskan hubunganku yang tlah aku bina hampir tiga tahun. Sebuah revolusi diri lagi, mendadak dan tak akan goyah. Amin.
Aku ingat benar. Hari itu seperti batu loncatan yang sangat besar untukku. Bahkan keputusan di hari itu berhasil merubah segala sesuatu dalam hidup dan kehidupanku sekarang dan nantinya. Bahkan tidak berlebihan jika aku katakan itu sebagai revolusi yang berdampak seumur hidup untukku. Tapi, lihatlah sekarang. Derry oktriana sudah mampu berteman baik atau berdamai dengan kesedihannya. Mungkin, kesedihannya memang tak mampu habis dimakan oleh waktu. Namun, untuk hidup dengan damai berdampingan dengan segala kesedihannya, dia sudah mampu sekarang. Allah yang Mahakuat selalu ada untuk menguatkannya. Amin.
Ya, itulah beberapa orang yang tidak bisa dikatakan sebagai sebuah ‘kebetulan’ hadir dan mengisi hidupku. Mereka aku sebut ‘keajaiban’. Mengapa? Karena merekalah orang-orang yang membuatku sadar betapa indahnya rencana yang Allah tulis dalam Lauhul Mahfudz. Orang-orang yang mendobrak langkahku untuk melakukan revolusi besar-besaran.
Aku kadang tertawa kecil sambil beristighfar sebanyak-banyaknya mengingat Derry Oktriana yang dulu pernah mencuat dari dalam tubuhku. Sosok gadis yang memakai rok sekolah diatas lututnya, memakai baju yang berukuran satu tingkat lebih kecil dari normal, merubah gaya rambutnya dengan aneka model, bolos dari sekolah melompati pagar, tidak pernah tahan dengan status jomblo, bahkan sangat takabur dengan menganggap bahwa jodoh berada sepenuhnya dibawah kendali status pacaran dan janji-janji semu. Astaghfirullah.
Tapi lihatlah sekarang, dia sedang menarik dirinya sekuat tenaga. Dan Allah yang murah hati membantu dirinya dengan menempatkannya diantara orang-orang yang luar biasa. Orang-orang yang berusaha tetap berpegang pada Al-Quran dan hadist. Mungkin inilah jawaban dari seluruh lantunan doa yang senantiasa aku munajatkan padaNya. “Ya Rabb, aku benar-benar ingin dekat denganMu.” Semoga ini semua memang jawabannya. Semoga Allah membantu gadis ini untuk terus menyempurnakan niatnya. Setia memakai gamis dan khimar. Menundukkan naluri jahiliyah dan menggantinya dengan kesederhanaan ucapan, pakaian dan perasaan.
Kuakhiri tulisan ini dengan sebuah kutipan kalimat mutiara dari Al-Qarni
Jadikan sahabat sejatimu adalah pena,
Saluran penumpahan ide-idemu adalah dakwah,
Kawan bermainmu adalah buku,
Istanamu adalah rumahmu,
Dan simpanan kekayaanmu adalah tenaga/masa sehatmu,
Jangan hiraukan hal-hal yang telah berlalu.
Dan untuk kalian saudara-saudara perempuanku, semoga kita tetap disatukan teguh dalam persaudaraan Islam ini. Dan dapat berkumpul bersama disana. Jannah ya Jannah. Amin ya Rabb. Amin.



No comments:

Post a Comment