Saturday, February 9, 2013

Aku Sudah Tidak Sedih Lagi



6 Februari 2013. Aku mengawali hari ini dengan satu nafas panjang yang sangat berat dan tersekat di kedua rongga rusukku. Aku melakukannya lagi, suatu monolog yang tak kunjung usai. Atas nama kelemahan keperempuananku dan atas nama seorang wanita yang meletakkan perasaan jauh di atas logikanya. Tak satupun air mata akan kubiarkan jatuh untuk hari ini. Tapi, tetap saja. Aku seolah sedang mati untuknya. Potongan hati ini berserakan dengan mengucurkan luka darah. Mereka mengatakan, “Aku mengerti, karena kau seorang perempuan sama sepertiku.” Aku terdiam dan membiarkan kalimat itu terputar berulang-ulang dalam pendengaranku. Lalu aku terbentur pada suatu dinding besar yang membuatku teramat sangat ingin berteriak, “Kalau begitu, sebagai seorang perempuan, sekarang katakan padaku bagaimana aku harus menghadapinya, apa yang harus perempuan ini lakukan? Tunjukkan aku bagaimana caranya menghentikan pisau yang terus bergerak dan menyayat jiwaku ini.”
Namun, tentu saja teriakan itu hanya karam dalam batinku. Banyak yang ingin aku katakan, tapi aku lebih memilih diam, mengubur semuanya rapat-rapat hanya untuk diriku seorang.
Karena, semua itu akan sia-sia, hanya membuka suatu luka dan membiarkannya kembali menganga. Tetap tak akan ada seorangpun yang datang untuk mengobati luka ini. Biarlah, suatu hari nanti, jika aku memiliki keberanian untuk mengatakan seluruh kebenaran yang selama ini belum sepenuhnya tersingkap kepada mereka. Atau akan aku biarkan kebenaran yang mengatakannya.
Sekarang, aku harus segera mengakhiri ini semua atau diriku akan binasa. Karena tak ada satupun tawa yang mampu menyembuhkan, tak pernah cukup waktu yang berjalan untuk memakan habis semua kesedihan dan kesakitan ini dan hati ini tetap tak akan mampu mengobati dirinya sendiri. Hari ini aku bersumpah, aku sendiri yang akan mengunci rapat semua kerapuhan ini, mengumpulkan sisa-sisa jiwaku dan bangkit. Aku akan memohon pada Allah untuk memberikanku hati baru, suatu hati utuh yang masih murni dan bersih. Tak akan aku isi dengan tangisan lagi, karena sungguh semua ini telah berlalu dan berakhir. Penyesalan ini harus dihentikan. Ketakutan ini harus dimusnahkan. Dan kesedihan ini harus diakhiri. Aku memilih untuk sabar, pasrah dan tawakkal terhadap segala ketentuan Allah. Melebur dengan ikhlas dan ridho terhadap seluruh rencana dan kehendakNya. Aku harus bahagia. Aku harus memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Amin.
Akhirnya, kututup dengan sebuah sujud yang diiringi senyum penuh syukur :
“Ya Rabb, kini aku sandarkan hati ini di suatu tempat yang penuh kepastian. Engkau ada disana. Terima kasih atas ujianMu, aku akan lulus dari semua ini. Kesabaranku akan aku berikan secara totalitas demi penantian akan ridhoMu. Kuatkan aku dan tetaplah bersamaku. Ya Allah, ya Rabb, segala puji atas kasih sayangMu. Kini, aku sudah tidak sedih lagi. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Aku sangat mencintaiMu wahai Zat Mahacinta.  Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.”

No comments:

Post a Comment