Tuesday, April 1, 2014

Masih Terjebak? Bangkitlah!



Dengan menyebut nama-Nya Yang Mahalembut dan Melembutkan.
Hari ini 31 Maret 2014, beberapa jam sebelum memasuki bulan baru, April 2014. Satu kata pertama yang mewakili postingan di blog ini adalah ‘Keprihatinan’, kenapa? Karena tak terasa, hampir empat bulan blog ini tidak dihiasi dengan judul baru, benar-benar mengecewakan. Katanya ingin berdakwah menggunakan tulisan, katanya seorang penulis, katanya tiada hari tanpa menulis, lalu dimana tulisan-tulisanmu Oktriana?Well, menulis itu memang sudah menjadi bagian dari diri sendiri, napas yang berhembus, nadi yang berdenyut, hingga darah yang mengalir. Hanya saja, belakangan ini, hampir seluruh tulisan berkelebatan tentang ‘rasa’ dan itu puncak permasalahannya.
Mungkin dulu, jauh sebelum ini, menulis seolah menjadi obat pelipur lara, anti-depresan terbaik yang dihasilkan oleh jemari renta ini, namun kali ini, tulisan seolah menjadi racun bagi orang lain apalagi bagi diri sendiri. Saat semua hal satu per satu diteriakkan secara lantang, ditulis secara detail tanpa perumpamaan, seolah terdapat suatu tindakan membunuh diri sendiri secara perlahan disana. Racun itu mendadak menjalar di sebagian pemikiran dan perasaan jika hasil tulisan berupa ‘rasa’ itu dibagikan ke publik kemudian dibaca oleh orang-orang yang mengidap close-minded syndrome.Meski ini terkesan berlebihan, tapi memang itulah kenyataannya.
Mungkin dapat kita mulai dengan testimoni pasca penerbitan bukuku yang berjudul ‘Selamat Tinggal Tuhanku, Aku Perempuan Merdeka’. Tak sedikit respon positif apalagi curhatan yang mengalir melalui berbagai alat komunikasi hingga pertemuan langsung, lantas apakah itu semua membahagiakan? Sama sekali tidak. Aku pikir, beban selama ini akan semakin berkurang dengan keseluruhan buku tersebut, ternyata tidak. Semua itu malah semakin memberatkan beban amanahku pada banyak orang, tak ada satu orangpun penulis yang merasa sanggup jika satu hari nanti, di akhirat kelak, Tuhan melemparkan tumpukan buku tepat ke arah wajah kami seraya berkata, “Ini seluruh buku yang telah dibaca oleh pembacamu! Bagaimana mungkin kau hanya menuliskannya tanpa mempraktekkannya terlebih dahulu kemudian istiqomah menjalankannya!” Naudzubillah. Segala puji hanya bagi-Nya sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri.
“Wahai orang-orang yang beriman!
Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(Surah As-Saff ayat 2 dan 3)
Dan itulah aku, seorang perempuan yang disebut penulis hanya karena menerbitkan sebuah buku amatiran yang isinya tak lebih dari semburat tangis putus asa dan teriakan keras kepala pada Tuhannya. Kadang, aku selalu mengatakan, “Tuhan, kadang Kau sangat menyebalkan! Tapi aku suka dengan cara-Mu membentukku. Semoga Kau paham maksudku, maaf dan terima kasih.” Atau di lain waktu aku mengatakan, “Tuhan, lakukan sesuka-Mu toh aku tak mampu memaksa-Mu, cukup biarkan aku mencintai Zat Yang Mahasempurna ini meski dengan kecacatanku. Mohon kerjasamanya, maaf dan terima kasih.”
Hingga sampai paragraf kelima ini, aku masih saja berputar-putar dengan pikiranku sendiri tanpa tahu arah dari tulisan ini nantinya. Baiklah, mungkin ada beberapa hal yang harus aku tegaskan. Pertama, jika ada segelintir orang yang tidak menyukai tulisan-tulisanku dan memintaku untuk meniadakannya, maka bisa jadi satu hari nanti blogku akan kosong melompong dan bukuku hanya berisi lembaran kertas kuning tanpa tinta. Jadi tolong, mulailah berhenti menjustifikasi seseorang hanya karena satu tulisan, bacalah keseluruhan bukuku, dari cover, mukadimah, isi, hingga kalimat penutup. Jika perlu, telusuri keseluruhan bacaan yang menjadi sumber inspirasiku selama ini. Aku ini hanya menulis tulisan-tulisan dengan warna non-fiksi. Seluruh tulisan itu hanya suatu tindakan menulis kembali segala kejadian yang telah dituliskan Tuhan, tak lebih, tak kurang. Jika mereka masih berkutat dengan seluruh tulisan di part-part awal, maka aku sangat ingin menjelaskan bahwa kini aku terjebak di part delapan, bagian yang penuh dengan guncangan dan ekspektasiku, sungguh aku tak peduli lagi dengan part-part sebelumnya.
Kedua, aku memiliki kehidupanku sendiri yang selama ini aku perjuangkan bersama Tuhanku, jadi tolong, berhenti mengarahkan pandangan sinis semacam itu atas seluruh ekspansi yang aku sebut dengan ‘Hijrah’ ini. Kalian tak pernah ada saat aku terpuruk, maka jangan sekali-kali mematikanku lagi saat aku berusaha bangkit. Tapi lakukanlah, terus lakukanlah, toh aku akan mengadukannya pada Tuhanku. Tak perlu merasa khawatir dengan mereka yang berniat dan berusaha melakukan pembalasan dendam pada kalian, tapi berhati-hatilah pada mereka yang saat dizalimi malah memilih tuk memaafkan dan menjadikan kalimat, “Cukuplah Allah Yang menjadi Pelindung kami,” sebagai tameng terbaik jiwa mereka.
Ketiga, selamat menikmati tulisan-tulisanku kembali.Sepertinya aku memilih untuk bangkit dari rasa keterjebakan atas pendapat-pendapat orang lain yang bahkan kadang, tak lebih dari kekhawatiranku saja. Untuk para pembaca, sangat diharapkan kritik dan sarannya demi kebermanfaatan tulisan-tulisan ini kedepannya. Semoga kebaikan senantiasa tercurah dari Allah ‘Azza wa Jalla melalui perantara jemari ini. Jika terdapat keburukan maka itu semata-mata dari seorang fakir nan bodoh bernama Derry Oktriana.
Akhirul kalam, Allah hafiz guys.

3 comments:

  1. teruslah menulis. jgn hiraukan komentar sinis selagi mba masih berpegang pd Al Qur'an dan hadis.. Allah dan Rasulnya saja mereka tentang dgn ilmu dan pikiran mereka sendiri, apalgi kita hanya manusia biasa., semoga Allah selalu menetapkan hati mba hanya untuk Nya semata.

    ReplyDelete
  2. Kacau nih tulisan !!!
    Bikin pembuluh darah yg mengalir ke cardiovaskuler bereaksi dengan cepat dan saraf saraf di otak menginstruksikan untuk segara membaca dengan hati..keren ka derry i like your article teruslah jemari mu berkarya

    ReplyDelete