Pernah ada
hari dimana langit begitu gelap. Aku benar-benar tak tahu matahari ada dimana.
Begitu pula dengan bulan dan bintang-bintang, ntah berada dimana mereka semua.
Rasanya tak ada satupun cahaya di hari itu. Awan mendung berlapis-lapis
menambah kekelaman. Kemudian tak cukup sampai disitu, suara gemuruh seolah
saling bersahutan. Hari itu laksana perpaduan antara
air dan api, dua hal yang rasanya tak mungkin berpadu namun di hari itu
mereka saling melengkapi.
Mengapa
aku menyebutnya air dan api? Bukankah mereka adalah dua perpaduan yang saling
bertolak belakang? Semua itu karena di hari itu awan sangat gelap, seolah tak
akan pernah ditemukan setitikpun cahaya lagi. Namun mendadak goresan-goresan
cahaya menyala diantara sela-selanya. Ya, dialah kilat yang terang benderang. Perpaduan antara kegelapan dan pencerahan, seolah satu tubuh
yang tak terceraikan. Kemudian kilat tersebut mengantarkan gelegar
gemuruh yang meruntuhkan langit dan menimpaku secara bertubi-tubi. Tak ada kata
lain yang mewakili itu semua selain kebinasaan.
Ahh,
rasanya siksaan Dia di dunia begitu dekat dan memenjarakanku di segala penjuru,
cukup lama aku terkubur di bawah puing-puing langit. Namun, Dia berkehendak
lain,








