Malam
itu, setelah mempublikasi tulisan ‘Hadiah Terbaik dari Saudi Arabia’, aku
meluangkan waktu untuk berkomunikasi melalui facebook, aku menyapa seorang temanku
di SMA dahulu, sebut saja namanya X. Awalnya hanya ingin menanyakan project
kami saat liburan nanti setibanya di Tanjungpinang, namun mendadak fikiranku
merambat ke satu pertanyaan liar yang sangat aku butuhkan jawabannya. Aku
memulai dengan kalimat, “Boleh nanya gak? Eh gak jadi deh, oke end.” Haha, dan
dia serta merta mengatakan, “Nah ini nih, paling anti kalo gak jadi nanya.”
Baiklah,
akhirnya aku meneruskan pertanyaanku, “Jadi gini, semua
orang punya kisah tentang hidayah, kalo ceritanya X gimana?”. Jengjeng,
begitu pertanyaannya. Dan dari seluruh obrolan kami, satu kalimat yang sangat
aku ingat dan melahirkan ide baru untuk seluruh tulisan ini nantinya. Ia
mengatakan, “Vacuum of Sense”. Satu kalimat
sederhana tapi sangat bermakna menurutku, karena ini semua menyangkut suatu
rangkaian kegiatan setelah dan sebelum ‘sesuatu’ dan tentunya memiliki hubungan
sebab-akibat. Great, sekian intermezo, mari kita memasuki pembahasan inti dari
tulisan ini.







