6 Februari
2013. Aku mengawali hari ini dengan satu nafas panjang yang sangat berat dan
tersekat di kedua rongga rusukku. Aku melakukannya lagi, suatu monolog yang tak
kunjung usai. Atas nama kelemahan keperempuananku dan atas nama seorang wanita
yang meletakkan perasaan jauh di atas logikanya. Tak satupun air mata akan kubiarkan
jatuh untuk hari ini. Tapi, tetap saja. Aku seolah sedang mati untuknya.
Potongan hati ini berserakan dengan mengucurkan luka darah. Mereka mengatakan, “Aku mengerti, karena kau seorang perempuan sama sepertiku.” Aku
terdiam dan membiarkan kalimat itu terputar berulang-ulang dalam pendengaranku.
Lalu aku terbentur pada suatu dinding besar yang membuatku teramat sangat ingin
berteriak, “Kalau begitu, sebagai seorang perempuan, sekarang katakan padaku
bagaimana aku harus menghadapinya, apa yang harus perempuan ini lakukan? Tunjukkan aku bagaimana caranya menghentikan pisau yang terus
bergerak dan menyayat jiwaku ini.”
Namun, tentu
saja teriakan itu hanya karam dalam batinku. Banyak yang ingin aku katakan,
tapi aku lebih memilih diam, mengubur semuanya rapat-rapat hanya untuk diriku
seorang.





